Sunday, January 11, 2015

Hijrah Ke Desa

Pengennya tu tadi fotonya terupload. Jadi lebih enakan kalau ada foto-fotonya trus ngalir aja gitu pas cerita. Tapi gagal :( Nanti deh fotonya saya coba upload lagi lewat hp. Semoga saja mau :)

Sebenarnya udah cukup lama hijrah ke desa. Tepatnya di Desa Langadai Baru, Kabupaten Kotabaru. Maaf saya belum tau alamat lengkap rumah di sini. Insya Allah nanti nanya ke pak RT. Jadi, semenjak bulan September (kalau nggak salah) saya tinggal di desa Langadai Baru ikut sama Bapak dan Ibu saya. Niatnya sih pas awal-awal cuma sebentar di sininya. Nganterin berkas buat CPNS 2014. Nggak tahunya malah disuruh menetap sama ortu. Yo wis lah, dengan pertimbangan ini-itu saya nurut saja. 

Kendala?! Pasti ada dong. September kemarin sampai November kan di desa ini masih kemarau. Jadi sumurnya kering. Kalaupun ada air, nggak cukup buat ini-itu. Itupun airnya berwarna dan bau lho sobat nguleg, sedih banget kan? Semacam bau seng berkarat. Air tersebut nggak dipake buat minum. Kalau air minum dan masak beli. Segalon lima ribu rupiah. Belinya langsung banyak soale tempat yang jualan galon jauh.

Oke, kendala air udah; ada lagi?! Ada lah...
Desa ini letaknya kayak di sebuah pulau gitu; di tengah-tengah laut. Nah akses ke kota harus nyebrang dulu pake Ferry  (ke Kotabaru misalnya) atau kalau mau jalur darat naik motor/mobil lumayan jauh juga (Batulicin misalnya). Karena kendala-kendala itu mungkin ya, harga kebutuhan pokok dan lain sebagainya di sini tuh mahal. Harga gas elpiji 12kg baru-baru ini di sini tembus dua ratus ribu rupiah. Bensin 1 liter sembilan ribu rupiah. Gimana-gimana? Di tempatmu berapa?

Nggak cuma kendala, banyak keuntungan juga lho kalau diusahain. Karena musim hujan sudah ada sejak bulan Desember 2014 kemarin, pohon-pohon atau tanaman yang sebelumnya kering jadi subur. Di sini tanahnya subur. Jadi, lahan kosong milik kakak saya disulap bapak deh. Tanahnya ditanamin lombok, terong, tomat, singkong, kenikir, pepaya, dan jeruk. Keuntungannya lagi udah banyak tumbuhan seperti tanaman sirsak, kelapa, mangga, pisang, jambu biji/air, rambutan yang udah tumbuh di sini. Kakak saya nanem pohon karet di belakang rumah. Penduduk sini juga banyak yang nanem karet. Dideres lagi getahnya. Punya kakak sih masih dibiarin.

Karena rumah di lingkungan sekitar rumah saya khususnya masih jarang; banyak lahan yang masih kosong. Banyak rumput ilalang dan semacamnya gitu lah. Berpotensi adanya biawak. Ayamnya bapak aja sering dimakan biawak. Kadang-kadang juga ada kera-kera yang datang ke kebun. Gelantungan di pohon karet. Bajing juga banyak banget. Suka makanin sirsak, rambutan dan pisang. Nyamuk?! Jangan nanya lagi; ne nyamuk udah beringasan banget. Kalau ke kebun nggak pake autan siap-siap aja badan bentol cekit-cekit deh gara-gara digigit nyamuk. Obat nyamuk di dalam rumah aja harus hidup terus.

Mall?? Helllow, di sini nggak ada mall hahahaha. Pasar ada, namanya pasar Tarjun Bawah dan pasar Tarjun Atas. Pasar Jumat setiap hari Jumat sore. Yang paling lengkap sih di pasar Tarjun Bawah; 15 menitan lah dari rumah. Jalan raya? Emmm belum di aspal semua;masih sakit deh jalannya. yang lumayan cuma di sekitar Pabrik semen aja. Pabrik ada 2 di sini, Indocement ama Smart. Teman-teman yang mau ngelamar kerja di sini bisa tuh cari webnya kedua pabrik tersebut.

Sekolahan?? Mungkin bisa dihitung jari. Belum bisa mastiin hehe. Yang pasti TK, SD, SMP dan SMA ada kok. Nggak kalah lah sama di Kota.

4 comments:

  1. Replies
    1. Biasa aj mas fotonya, terkendala sinyal di sini. Makanya g bs diupload2

      Delete
  2. Iyaaaa jadi penasaran ngeliat langsung situasi di sana kayak apa :)

    ReplyDelete

Please give your comments in writing ...