Showing posts with label Review Buku. Show all posts
Showing posts with label Review Buku. Show all posts

Tuesday, May 29, 2012

Muhammad: Para Pengeja Hujan 292-293

Semua orang mendengar, menyimak dengan dada berdebar. Engkau melanjutkan kalimatmu.  

"Aku pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi kalian. Tempat pertemuan kalian denganku adalah di telaga yang sesungguhnya dapat kulihat dari tempat aku berdiri saat ini. Aku tidak mengkhawatirkan kalian akan menyembah Tuhan lain selain Allah. Akan tetapi, yang kukhawatirkan, kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan duniawi."

***pesan***

Monday, December 26, 2011

Book Review: Death in the Clouds

Maut di udara
Pengarang: Agatha Christie
Jumlah halaman: 328
Tebal buku: 18 cm
Desain dan ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


Novel Maut di udara ini menceritakan kematian seorang penumpang pesawat Prometheus yang bernama Madame Giselle. Kematiannya yang tidak disadari oleh penumpang lain menjadi sebuah teka-teki yang akhirnya membawa beberapa nama dalam sebuah penyelidikan dan ditangani oleh seorang detektif, Hercule Poirot serta temannya dari kepolisian M.Fournier. Adanya lebah di dalam pesawat saat itu serta ditemukannya sumpitan kian membuat Poirot jeli. Wanita bangsawan Inggris (suami), dokter (Harley Street), barang-barang antik palsu, Inggris (penggelapan) serta percobaan pembunuhan (Inggris) merupakan lima poin penting yang tersusun rapi. Dari sinilah Poirot serta Fournier menganalisa, mencari hal-hal yang mungkin terkait serta mengumpulkan bukti.

Melalui usaha penyamaran yang dilakukan oleh Norman Gale-Poirot semakin yakin bahwa Lady Horbury tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini meskipun dia terlihat sangat ketakutan saat itu. M.Dupont, seorang arkeolog terkenal dicurigai telah membawa sumpitan beracun-namun hal ini tidak juga terbukti. Dokter Bryant pun ikut diselidiki. Kematian Madame Giselle juga dikait-kaitkan dengan Anne Morisot sebagai satu-satunya pewaris kekayaan yang ditinggalkan oleh ibunya. Sayang, sebelum hal itu terbukti-anaknya ditemukan meninggal di Boulogne dengan sebuah botol gelas biru yang berisi asam hidrosianida di tangannya.

Monday, October 3, 2011

Book Review: Sebelas Patriot

Dalam novel ketujuhnya Andrea Hirata yang berjudul "Sebelas Patriot" ini-penulis lebih banyak menceritakan pengalaman pribadinya dalam dunia persepakbolaan, pengalaman ayahnya sebagai salah satu pemain sepak bola pada masa penjajahan Belanda sampai pada makna sepakbola itu sendiri di kalangan semua orang baik perempuan maupun laki-laki.

Diceritakan dalam buku setebal 112 halaman ini, Ikal sebagai seorang anak kuli parit tambang di bawah pimpinan Distric beheerder Van Holden yang membawahi wilayah ekonomi pulau Bangka dan Belitong. Sementara ayah Ikal, serta dua saudaranya akrab dikenal sebagai tiga bersaudara yang saat itu kondang karena mereka-si sulung bertindak selaku gelandang, adik tengahnya melesat ke posisi kanan luar dan si bocah bungsu sebagai pemain sayap kiri berhasil membuat Van Holden terpana berkat pelatih Amin. Namun sayang, tiga saudara ini akhirnya dibangkucadangkan pada sebuah pertandingan bola yang disaksikan oleh para petinggi meskapai serta Van Holden. Pada pertandingan-pertandingan bola selanjutnya mereka dilarang tampil namun nekat tampil karena mereka tahu bahwa sepak bola adalah kegembiraan rakyat jelata yang mendukung mereka. Lapangan bola adalah medan pertempuran untuk melawan penjajah hingga berujung pada penangkapan tiga bersaudara dan pelatih Amin. Akibatnya, ayah Ikal pulang dengan tempurung kaki kiri yang hancur-dengan demikian dia takkan pernah bisa main sepak bola lagi.

Thursday, September 8, 2011

Paulo Coelho

Huaaah, akhirnya! Setelah sekian minggu-bulan buku ini ngangkrak di rak, tadi malem rampung juga sampai cerita berakhir. Dah pada tahu kan siapa itu Paulo Coelho?! Itu lho... yang lebih dikenal sebagai penulis buku The Alchemist. Nah kalau kemarin-kemarin Huda Tula sempat posting beberapa kalimat yang ada di buku ini. Giliran saya buat ngereview novel di samping ala saya ya!

Novel dengan judul The Winner Stands Alone (Sang Pemenang Berdiri Sendirian) ini cukup membuat saya bosan di awal-awal cerita. Kalau dibilang berat sih nggak, cuman alur ceritanya itu yang buat mata mengantuk. Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk melahap habis cerita di novel ini-karena apa?! Ya karena alur ceritanya tadi (mundur-maju terus maju-mundur gitu). Jadi kali ini saya tidak begitu merekomendasikan buku ini ke kalian, namun kalian bisa membelinya jika tertarik :p

Dari 472 halaman yang ada di novel ini, terus terang tidak ada halaman favorit saya-yah barangkali bisa saya temukan quote menarik di sana, nyatanya nggak ada. Semakin ke belakang halaman buku-cerita berkisar pada tindakan-tindakan sinting yang dilakukan Igor untuk mengirimkan sebuh pesan ke Ewa. Lalu, siapa sih Igor? Dan siapa pula Ewa? Cerita ringkasnya tuh begini sodara-sodara, Ewa ini adalah mantan istrinya Igor. Igor di sini adalah seseorang yang memang kaya raya dan memiliki salah satu perusahaan ponsel terbesar di Rusia. Perpisahan mereka sedikit kurang menyenangkan bagi keduanya. Karena saat itu Ewa mulai sadar kalau Igor telah membunuh seseorang-tepatnya pengemis yang diusirnya ketika Ewa dan Igor sedang menghadiri sebuah acara (pas lagi makan terus pengemisnya tuh minta-minta gitu).

Monday, August 8, 2011

Buku kedua

man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses
man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung
man sara ala darbi washala: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan

Di buku keduanya A.Fuadi ini, sangat jelas digambarkan bagaimana kehidupan Alif Fikri di perantauan yakni di Bandung sana demi mengecam bangku kuliah. Awalnya hanya satu mantra "man jadda wajada" saja yang sangat berpengaruh di kehidupannya. Mulai dari kesulitan mencari kerja, kegigihannya dalam menekuni kegiatan tulis-menulis sampai menjadi sales door to door untuk bertahan hidup mampu dijalani Alif dengan mantra ini. Tapi, kehidupannya semakin sulit ketika ayahnya meninggal. Membaca cerita tentang hal ini membuat saya pribadi ikut merasakan kehilangan sampai-sampai saya menangis. Sedih, haru,  asmara, senang, kocak, persahabatan ada dalam buku ini. Secara garis besar tertulis pengalaman Alif selama di Bandung-tepatnya di UNPAD tempat dia kuliah lalu perjalanannya di Yordania sebelum akhirnya menetap di Quebec (Kanada, Amerika Serikat) selama 3 bulan.


Sama seperti buku pertamanya "Negeri 5 Menara" tanpa di suruhpun saya bersedia berulang-kali membaca buku ini. A.Fuadi mengajari saya bagaimana kita bisa bertahan hidup selama di tempat perantauan. Beliau juga mengajari saya untuk tidak kapok bermimpi yang juga diiringi dengan belajar, do'a, usaha, tekad serta kemauan. Tidak lupa, yang paling.... paling saya sukai-A.Fuadi begitu menghormati kedua orang-tuanya.

Saturday, May 14, 2011

Ultramen Cosmos Bawa Blackbook dari Galaksi Punky

Tanggal 10 Mei 2011 kemarin saya kedatangan Ultramen Cosmos. Dia bawa hadiah giveaway dari Galaksi Pungky, ini dia hadiahnya :)